‘Kata’ Mereka dan ‘Kata’ Kita

Pengakuan dan perhatian dari orang lain membuat manusia merasakan eksistensinya sebagai bagian dari materi. Terkadang pengakuan dan perhatian tersebut menggodanya untuk meminta lebih. Ia harus lebih diakui. Ia harus lebih diperhatikan. Selanjutnya ia merasa harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian yang lebih itu. Lahirlah apa yang dinamakan aktualisasi diri.

Aktualisasi diri sangat erat kaitannya dengan kata. Kata adalah ekspresi aktualisasi diri yang paling nyata, jelas, dan mudah dipahami. Itu sebabnya banyak orang yang menggunakan kata untuk aktualisasi diri. Pada zaman sekarang fenomena itu sangat terasa terutama di dunia maya.

“Kata adalah sepenggal jiwa.”, kata Abul Hasan Ali Al Hasani An-Nadawi, pemikir dan pemimpin pergerakan di India. Kata begitu erat dengan jiwa. Ia adalah ekspresi jiwa yang  nyata jika tidak ada kemunafikan. Ia adalah pesan perasaan yang murni jika tidak ada kedustaan. Ia adalah bentuk respon ataupun penilaian yang objektif jika tidak ada kedengkian.

“Sesungguhnya di antara bayan (penjelasan tertulis atau terucap) ada yang mempunyai (kekuatan seperti) sihir” , kata Rasulullah. Inilah kekuatan kata. Ia bisa mempengaruhi seseorang, baik itu pemikirannya maupun tindakannya. Terkadang ia membuat manusia tertawa. Terkadang ia membuat manusia merasa sedih. Terkadang ia membuat manusia bersemangat dan optimis. Terkadang ia membuat manusia putus asa. Terkadang ia menjelma menjadi badai jiwa. Terkadang ia menjelma menjadi air segar yang memancar di padang pasir yang tandus.

Begitu dahsyatnya kekuatan kata, sehingga tak heran Sang Rasul, Muhammad menggunakannya sebagai senjata utama untuk mengemban misi hidupnya. Muhammad bisa menyembuhkan orang sakit seperti Isa. Juga bisa membelah laut seperti Musa. Bahkan bulan pun bisa dibelahnya. Muhammad mempunyai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya. Tapi beliau selalu menghindari penggunaannya sebagai alat untuk meyakinkan orang kepada agama yang dibawanya. Beliau memilih kata. Karena itu mukjizatnya adalah kata : Al-Qur’an. Maka kita temukan sebagian dari kehidupan Rasulullah SAW itu adalah riwayat atas kata.

Tapi, terkadang kedahsyatan kata itu hilang ketika yang membuat dan memakainya adalah pemilik jiwa-jiwa yang kerdil; jiwa-jiwa yang mengorientasikan kata hanya untuk aktualisasi diri. Ketika itu kata-kata hanya akan melahirkan wacana. Ia akan menjadi sastra yang kering, retorika yang gersang, inspirasi pemikiran yang absurd, dan objek kekaguman yang semu. Tidak ada ruh kehidupan di sana. Maka tidak heran, begitu banyak buku-buku yang tebal tetapi semua kata yang terdapat pada buku itu sedikit sekali bahkan tidak ada pengaruhnya bagi perubahan wajah dunia. Inilah ‘kata’ mereka; ‘kata’ orang-orang yang bertujuan mendapatkan materi dan memperkokoh eksistensi diri.

Kedahsyatan kata hanya muncul ketika diorientasikan secara murni untuk kemanusiaan. Ketika itu kata akan mendorong munculnya amal kolektif. Ia meniupkan ruh baru kepada manusia. Mungkin inilah yang mebedakan kata-kata Hasan Al-Banna dengan kata-kata William Shakespeare dan J.K. Rowling. Inilah ‘kata’ kita; ‘kata’ orang-orang yang berorientasi terhadap amal kemanusiaan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s