Latest Post

Pulang Kampung dan Praktisi Fiqh

Guru Ngaji

Guru mengajar bacaan Iqra (Sumber: NU Online)

Ketika malam takbiran Idul Fitri kemarin, saya menyempatkan ngobrol dengan guru ngaji saya waktu kecil. Beliau adalah orang yang mengajar saya dan kawan-kawan sebaya saya ketika duduk di sekolah dasar dan menengah pertama. Beliau mengajar teori dan praktik bacaan Al-Qur’an dan beberapa ilmu agama mendasar seperti fiqh, aqidah, akhlak, sampai melatih berbagai kesenian Islam-Sunda seperti rudat (tarian semi beladiri yang diiringi tabuhan rebana besar dan bedug), nad(z)om-an (sya’ir sejarah Nabi Muhammad yang dilagukan dan ditampilkan ketika acara maulid), deba-an (sya’ir dalam kitab diba’i), dan membuat dekorasi berbagai perayaan hari raya Islam.

Di tengah rehat takbiran, beliau menyampaikan keresahannya tentang krisis orang-orang yang mau dan mampu menjalankan dan memimpin ritual-ritual keagamaan di kampung, mulai dari yang memandikan jenazah jika ada yang meninggal, memimpin sholat berjamaah, adzan di musholla, memimpin tradisi/ritual aqiqah, dan memimpin tadarrus-an setelah tarawih. Saya hanya bisa mendengarkan dengan seksama bercampur kesedihan yang mendalam. Seolah-olah ada suara dari hati saya, seharusnya saya yang memikul dan meringankan beban guru saya yang sudah beruban banyak itu. Para Kyai di kampung sudah banyak yang wafat, sementara penerusnya tidak sebanyak yang wafat. Continue reading