Sang Musa, Muassis, dan Saham

Kisah Musa adalah kisah perlawanan terhadap eksistensi kegelapan. Musa menyadari bahwa ia lahir ditakdirkan untuk itu; melakukan perlawanan. Ia Menyadarai bahwa Ia harus ikut memikul tanggung jawab risalah nubuwwah, risalah kenabian. Bukan karena ia diberi tahu bahwa ia seorang nabi. Bukan pula karena ia percaya diri atas dukungan sebagian kaumnya. Tapi kesadaran akan sejarah perlawanan terhadap eksistensi kegelapan harus ia lanjutkan sebagai bagian dari rentang sejarah panjang kenabian.

Ia tidak takut. Ia tidak gentar. Ia tidak pernah putus asa. Ia sadar bahwa kegelapan hanyalah keadaan ketika cahaya hilang. Kegelapan tidak memiliki eksistensi yang nyata sebagai materi. Kegelapan tidak berdaya. Kegelapan akan lenyap ketika cahaya memadai untuk menerangi semua ruang.

Sejarah Fir’aun berakhir di laut merah. Ia tenggelam. Binasa. Apa yang telah diperbuatnya tidak menolongnya sedikitpun. Bahkan perbuatannya menjadi kutukan sepanjang sejarah. Ketika itu tidak ada seorang pun yang tahu, menyangka, bahkan berpikiran bahwa bahwa Fir’aun akan diakhiri sejarahnya oleh seseorang yang dekat dengan dirinya. Sepotong sejarah kegelapan berakhir.

At-Triikhu yu’iidu nafsah; sejarah akan mengulangi dirinya sendiri. Sang Musa hadir kembali di penghujung abad 20. Ia bukan nabi. Keulamaannya pun ada yang meragukan. Tapi ia mirip dengan musa. Ia memiliki kesadaran yang sama akan tanggung jawab risalah nubuwwah. Ia juga melakukan amal yang mirip dengan Musa. Ia melakukan perlawanan. Dirinya telah Ia wakafkan untuk perlawanan terhadap eksistensi kegelapan. Ialah sang Muassis, Hasan Al-Bana.

Inilah sejarah perlawanan kontemporer. Ketika serangan pemikiran mengikis kemurnian dan ketinggian risalah Muhammad, ketika banjir perilaku amoral melanda umat, ketika tipu daya musuh berhasil menumbangkan pertahanan politik terkahir umat (Imperium Utsmani-1928) Al-Bana melakukan perlawanan. Jiwanya resah. Ia mengungkapkan keresahannya kepada ulama-ulama besar ketika itu; Sayyid muhammad Rasyid Ridha dan Masyayiikhul Azhar. Keresahannya itu melahirkan kesadaran. Dan kesadarannya tidak mengijinkan ia lari dari tanggung jawab. Ia menyeru kita semua untuk kembali meneruskan risalah nubuwwah dan bangkit sebagai pewaris bumi yang haq. Annal ardho, yaritsuha ibaadiyasshoolihuun (Al-Anbiya : 105).

Keimanan, pemikiran, dan semangat Al-Bana telah menembus jiwa-jiwa yang murni. Perlawanannya disambut oleh manusia-manusia yang ikhlas akan keislamannya. Perlawanannya akan eksistensi kegelapan telah menyebar ke pelosok-pelosok negeri di berbagai belahan dunia.  Ketika masih hidup Al-Bana sadar akan panjangnya rentang sejarah perlawanan ini. Maka ia mewariskan manhaj perjuangannya, at-tarbiyyah al-mustamirroh, continuous education.

Sekarang tangan-tangan pengkhianat telah menumbangkan raganya. Tumpahlah darah Al-Bana. Tetapi justru darah itulah yang menyirami pohon perjuangannya sehingga menyuburkannya. Ia benar-benar telah menanam saham perlawanan akan eksistensi kegelapan. Setidak-tidaknya dengan melihat fenomena amal islami di berbagai belahan dunia, saya bisa dengan tenang mengatakan bahwa ia lah yang memegang saham terbesar pada masa kebangkitan ini. Lakallah ya da’watal khoolidiin..

Sejarah Hasan Al-Bana bisa dilihat pada link di bawah ini :

http://harakatuna.wordpress.com/2008/12/01/sejarah-kehidupan-hasan-al-banna/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s