Pesan Kedatangan

Dari hari ke hari media massa kita dipenuhi berita  yang mengerikan. Kamu tentu tidak asing dengan judul-judul berita ini, “Dua Juta Remaja Melakukan Aborsi, Seorang Karyawati Diperkosa, Memburu Bankir Pembobol Bank, Kolusi dan Korupsi di Legislatif, Bandar Narkoba Lolos dari Penjara, Pembunuh Udin Makin Tidak Jelas, Pembantaian Warga, Penindasan Mahasiswa Junior, Penindasan Rakyat Oleh Penguasa”, demikian seterusnya. Rasanya semua itu menghilangkan optimisme kita akan dunia kemanusiaan yang damai dan terhormat.

Dari hari ke hari dunia entertainment kita dipenuhi pertunjukan amoral.  Tarian erotis, humor ‘nakal’, dan nyanyian ‘metal’ yang mengarah kepada hura-hura menjadi konsumsi kaum hedonis yang dilegalkan. Kebebasan berkespresi menjadi nisbi tersendiri yang menggerogoti moralitas manusia. Padahal dalam kenyataannya nisbi tak pernah mencukupi untuk disebut benar.

Dari hari ke hari dunia entertainment kita dipenuhi hal yang sia-sia, laghwun. Film yang tak mendidik, gosip artis yang sebenarnya hasil intervensi media massa terhadap ranah privat, sampai tayangan sihir yang dibungkus dengan sarana modern. Melalaikan. Menjauhkan kita dari misi kehidupan yang luhur.

Apakah kita bahagia dengan semua krisis moral itu? Dengan semua krisis kepribadian dan akhlak itu? Tidak sama sekali. Krisis moral itu telah menimbulkan ketegangan global antar masyarakat dan antar anggotanya; sesuatu yang akhirnya menghilangkan rasa aman dalam diri umat manusia. Krisis moral itu telah menyebarkan perasaan pesimisme dan fatalisme pada individu-individu yang merasa teralienasi -terasing- dari masyarakat. Krisis moral itu telah menghilangkan keseimbangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya; sesuatu yang telah mengancam kelangsungan peradaban barat karena menghancurkan sendi-sendi keluarga sebagai senyawa penyusun peradaban. Krisis moral itu telah memunculkan fenomena sosial yang mengerikan; bunuh diri, perceraian, kriminalitas, narkotika, pelacuran, homoseksual, aborsi, dan seterusnya.

Semua kebahagiaan kita adalah palsu. Yang ada hanyalah fatamorgana. “… Amal mereka bagaikan fatamorgana, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya…” (An-Nur : 39). Kita adalah manusia-manusia sepi di tengah keramaian, manusia-manusia  merana di tengah kemelimpahan, dan masyarakat peradaban yang berbudaya primitif.

Siapakah engkau wahai manusia? Wahai jiwa? Wahai raga? Adakah nurani untuk memperbaiki diri dan bangsa ini?

Wahai bangsaku! Wahai tanah airku! Rasanya jiwa ini ingin sekali menyenandungkan kalimat-kalimat jiwa Anis Matta seperti ini : “Yang tercinta tanah airku, katakan pada mereka yang mencoba menyebut kami sektarian, ekslusif, dan konservatif; kata itu adalah burung hantu yang justru engkau terbangkan di langit hati kami, namun kini telah tertembak mati oleh senapan nurani keislaman kami. Lihatlah, kini ia terkapar tak berdaya di ujung gurun sahara. Dan merpati Islampun terbang tinggi membawa pesan kedatangan; kami kembali, o.. yang tercinta tanah airku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s