Transformasi Paradigma Khoiru Ummah

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran [3]: 110)

Seringkali kita merasa Al-Qur’an berbicara tentang takdir abadi dalam sejarah kehidupan kita. Gelar umat terbaik bagi kita dianggap status yang diberikan begitu saja setelah kita beragama Islam dan dengannya ada jaminan surga bagi kita. Tidak! Ini bukan status. Ini adalah perintah.

Gelar umat terbaik pantas diberikan kepada kita jika kita memenuhi tuntutan-tuntutannya. Al amru bil ma’ruf (memerintahkan yang ma’ruf-kebaikan yang familiar), an nahyu ‘anil munkar (melarang yang munkar-hal yang diingkari manusia secara umum), dan al iman billah (beriman kepada Allah secara total) adalah tiga tuntutan yang harus dipenuhi.

Memenuhi tiga  tuntutan itu tidaklah mudah. Al amru bil m’ruf relatif berat. Seringkali kita pasif dalam kebaikan kolektif. Merasa nyaman dengan kesalihan pribadi. Merasa berat untuk ikut serta membangun kesalihan umat. Terkadang kita terjebak dengan alibi perbaikan diri sebelum memperbaiki orang lain. Nyatanya alibi itu seringkali dijadikan jubah pelindung orang-orang lemah secara mental dan kapasitas.

An nahyu ‘anil munkar relatif berat. Seringkali kita ‘merasa’ menghormati orang ketika membiarkannya melakukan perbuatan munkar. Padahal itu hanya refleksi ketidakberdayaan kita. Filsafat individualisme  telah meracuni kita untuk kemudian berlindung di balik jubah toleransi dan solidaritas kemanusiaan atas ketidakberdayaan itu. Terkadang dalam menyikapi kemunkaran kita mengambil posisi yang seringkali dianggap hebat : moderat. Tidak melarang secara mutlak dan tidak memperbolehkan secara mutlak. Katanya ini posisi independen yang melihat dari berbagai sudut pandang manusia. Nyatanya posisi ini terkadang tidak lebih dari posisi banci yang gamang.

Al iman billah relatif berat. Terkadang kita lupa ketika sudah mengikrarkan syahadat maka semua pandangan hidup kita, gaya hidup kita, dan jalan hidup kita harus sesuai dengan ketentuan yang Allah kehendaki sebagaimana yang Rasulullah ajarkan kepada generasi pertama kaum mukminin. Padahal jika tidak demikian, maka secara otomatis kita akan menjadi kaum hipokrit yang akan menjadi penghuni keraknya neraka (QS. An Nisa’ : 145). Terkadang kita hanya menerima secara parsial tuntutan syahadat ini. Kita tidak siap memenuhinya secara menyeluruh – terlepas dari faktor  lemahnya tekad untuk mempelajari agama secara komprehensif. Padahal keimanan adalah masalah totalitas. Tidak ada posisi di antara iman dan kafir. Kita harus memilih salah satunya. Tidak ada pilihan setengah-setengah. Ambil semuanya atau tinggalkan! Inilah tuntutan keimaman (QS. An Nisa 150-151).

Jika kita memenuhi tuntutan atau syarat umat terbaik, maka gelar itu bukanlah utopia. Dan kini gelar itu menjadi tugas abadi sejarah kita. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s