Golongan Putih dan Golongan ‘Jernih’

Golongan putih menjadi istilah yang sekarang familiar sebagai sematan untuk kelompok orang yang tidak mau memberikan suaranya dalam Pemilihan Umum. Kalangan yang membenarkan golput berpandangan bahwa golput itu sendiri adalah hak yang tidak bisa diintervensi oleh orang lain. Jadi golput dalam pandangan mereka adalah salah satu pilihan dalam Pemilu.

Faktor yang menyebabkan timbulnya golput ini bermacam-macam. Ada yang memilih golput karena hilangnya kepercayaan terhadap semua partai politik dan semua calon legislatif ataupun eksekutif (calon presiden dan wakil presiden). Tidak ada lagi pilihan. Semua isi dunia politik adalah tipu daya, maka pemain di dalamnya adalah para manusia munafik tanpa terkecuali.

Ada juga faktor ideologi. Sebagian kalangan yang menganggap demokrasi adalah sistem yang haram, memilih golput sebagai salah konsekuensi ketaatan dalam beragama: meninggalkan dan mengingkari sesuatu yang haram. Sistem yang haram tidak akan melahirkan para pemimpin yang mampu membawa kepada kebaikan. Para politisi akan terjebak di dalam labirin dan lingkaran setan yang sulit sekali suatu bangsa keluar dari keterpurukannya.

Ada juga faktor keputusasaan. Sebagian kalangan masih percaya ada orang baik yang perlu didukung untuk menjadi pemimpin, akan tetapi kotornya dunia politik sekarang menjadikan putus asa dan merasa tidak mungkin suara yang mereka perjuangkan berdampak secara signifikan dalam menentukan terpilihnya wakil rakyat atau pemimpin yang baik.

Yang terakhir adalah faktor ketidaktahuan. Banyak orang awam yang terkadang minim informasi dan minim pemahaman yang berada di pelosok-pelosok daerah atau di pinggiran kota tidak tahu menahu tentang Pemilu.  Ada juga masyarakat pedesaan maupun perkotaan yang cukup ramai yang tidak teredukasi dengan baik biasanya acuh tak acuh dengan Pemilu kecuali mereka diarahkan dengan iming-iming uang, jasa perbaikan sarana umum, jasa pemberangkatan liburan, ataupun jasa pemberangkatan haji dan umroh bagi tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Golongan putih karena faktor ketidaktahuan biasanya diselamatkan oleh golongan ‘jernih’. Golongan jernih ini adalah mereka yang masih memiliki optimisme akan kehidupan berdemokrasi dan respon positif terhadap Pemilu dengan semangat pratisipatif dan berupaya mencari dan mengenal calon-calon wakil rakyat ataupun pemimpin yang baik.

Golongan ini berupaya mencerdaskan dirinya dengan cara mencari informasi tentang pemilu dan juga berupaya mencerdaskan orang lain dengan berbagi informasi tersebut. Golongan ini berupaya menjadi rational thinker: memiliki idealisme ideologis tetapi berfikir rasional bahwa sistem demokrasi yang di dalamnya terdapat mekanisme Pemilu memiliki segi negatif tetapi juga bisa digunakan sebagai upaya mendukung gagasan-gagasan dan orang-orang yang baik. Toh ini adalah sistem yang berlaku di negara ini sehingga berfikir realistis adalah pilihan yang cukup rasional.

Golongan ini melihat masyarakat yang lugu secara politik sebagai golongan yang perlu diberi sentuhan edukasi agar mereka menyadari diri mereka sebagai zoon politicon yang akan menentukan nasibnya sendiri dan orang lain berdasarkan kualitas partisipasinya dalam masalah politik. Golongan ini berupaya memberikan edukasi persepsi sampai edukasi teknis terkait Pemilu. Dalam benak mereka selalu ada optimisme sehingga gagasan dan aksi mereka lebih persuasif daripada konfrontatif.

Saya hanya berharap golongan yang jernih tersebut selalu menjaga hatinya agar pengorbanan mereka selalu diliputi kerelaan tanpa tanda jasa manusia. Para agamawan menyebutnya keikhlasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s