Bimbel Krakatau

Individual Social Responsibility

Sekarang marak sekali budaya bimbingan belajar (Bimbel) di luar waktu sekolah bagi siswa sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Tentunya ini adalah angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Walaupun fenomena ini masih terbatas di perkotaan, setidaknya menjadi kabar baik baik yang diharapkan bisa lebih meluas pengaruhnya ke berbagai daerah selain perkotaan.

Tak heran jika lembaga Bimbel menjamur di mana-mana. Mulai dari kelas kecil sampai pelayanan belajar privat disediakan oleh lembaga-lembaga tersebut. Hampir tiap tahun banyak lembaga baru ataupun cabang lembaga Bimbel yang muncul. Profesi guru bimbingan belajarpun menjadi peluang kerja yang menjanjikan.

Akan tetapi ada fenomena yang harus kita cermati. Tidak semua siswa sekolah bisa mengikuti Bimbel di luar sekolah karena keterbatasan finansial orang tua. Umumnya yang mengikuti Bimbel adalah siswa yang orangtuanya tergolong mampu secara finansial. Apalagi kelas privat, pengalaman saya mengajar setiap pertemuan saja biayanya bisa mencapai 60-80 ribu.

Saya terkadang merenung bahwa budaya kompetisi itu baik…

View original post 336 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s