Basuki dan Kegilaan*

Saya lebih sreg menyebut nama aslinya. Sebutan Ahok bagi saya terlalu friendly. Sementara saya tidak terlalu mengenal beliau. Hanya tahu beliau sebagai Gubernur DKI Jakarta yang punya efek ‘wow’ sejak awal menjabat karena menggantikan Gubernur DKI sebelumnya, Joko Widodo. Ketika bertemu pertama kali secara langsung di kampus saya dulu pun bukan untuk berbicara tentang latar belakang dan identitas beliau, tapi tentang ‘atraksi’ dan capaiannya sebagai gubernur.

Basuki dalam perspektif sebagian orang adalah orang yang berani tampil apa adanya dalam memimpin. Ia melakukan banyak ‘kegilaan’ yang revolusioner, baik itu kegilaan tindakan maupun ucapannya. Banyak pejabat yang indisipliner sudah dipecat olehnya. Reformasi birokrasi yang dilakukan olehnya sangat akrobatik; memangkas perijinan yang terjangkiti birokratisme, transparansi kerja lewat video, membangun budaya lelang jabatan yang dinilai lebih adil, sampai peningkatan kualitas pelayanan administrasi publik dengan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Selain itu, sungai-sungai di Jakarta, disinyalir oleh Google, menjadi bersih  karena Basuki. Adapun terkait ucapannya, sebagian orang menilainya ketegasan, alih-alih ucapan amoral walaupun identik dengan ucapan-ucapan uneducated people.

Tentunya kegilaan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang yang sudah bosan dengan tipe kepemimpinan yang biasa-biasa saja. Sebagian mungkin merasa sudah banyak kegilaan di dunia politik yang perlu diperbaiki oleh orang yang lebih gila lagi.

Tapi kegilaan jangan sampai diberi sorak sorai dan dukungan yang menggila. Kegilaan tanpa koreksi akan menjadi kegilaan buta. Ini yang menjadi bahaya dalam kekuasaan. Ide sosialisme Marx itu gila. Tapi tanpa kritik dalam kekuasaan yang menopang sosialisme (otoriter proletar) menciptakan bencana kemanusiaan yang tidak terkendali. Semangat dan keberanian Soekarno itu gila. Tapi tanpa kritik Soekarno menjelma menjadi gila kuasa di akhir masa kepemimpinannya. Basuki itu punya banyak tindakan dan ucapan gila. Tapi tanpa kritik dan selalu berlindung di belakang tameng citra kesempurnaan dan tiada bandingannya itu akan menjadi bencana kegilaan buta bagi Jakarta.

Kegilaan Basuki perlu diberi komparasi. Pendukung kegilaan Basuki jangan sampai tergila-gila sampai lupa berpikir kritis dan enggan mencari pembanding. Penolak kegilaan Basuki juga jangan sampai marah-marah menggila dan tidak memberikan alternatif pemimpin yang gilanya lebih ‘efektif’ dan ‘efisien’; gilanya lebih tepat sasaran tanpa ada ekses negatif yang lebih besar.

Menolak fakta Basuki memiliki prestasi dalam memimpin Jakarta adalah kegilaan yang naif dan blunder. Sama halnya menolak fakta bahwa Basuki dikecam banyak masyarakat karena isu SARA yang ia hembuskan dan menyulut keretakan toleransi juga merupakan kegilaan yang naif. Di samping itu, meniadakan kegagalan Basuki dalam penanggulangan banjir, pengurangan kemacetan, dan penertiban PKL dan pemukiman liar secara bermartabat merupakan kegilaan yang buta. Meniadakan tersangkutnya Basuki dalam kasus korupsi ‘Sumber Waras’ dan ‘Reklamasi’ juga kegilaan yang akut.

Jakarta tetap perlu kegilaan. Tapi kegilaan yang baru. Gila ide dan kontribusi. Ide atau gagasan calon Gubernur akan terlihat pada kampanye-kampanye monologis maupun dialogis. Kontribusi, etos kerja, dan profesionalitas akan terlihat pada rekam jejak. Tentunya rekam jejak karir, bukan rekam jejak dalam memimpin Jakarta. Suatu kekonyolan dan kegilaan yang naif jika masih ada yang berkutat pada pembicaraan rekam jejak dalam memimpin Jakarta karena pesaing Basuki tidak ada yang pernah memimpin Jakarta. Ini bukan apple to apple.

Mengganggap Basuki tak ada bandingannya dalam memimpin Jakarta itu boleh jadi bagi sebagian orang benar. Tapi itu sebelum ada calon gubernur yang lain. Setelah ada calon gubernur yang lain, maka anggapan itu menjadi kultus yang tentunya hanya ilusi sebagian orang malang yang mengharap datang atau bertahannya Ratu Adil yang tanpa cacat dan akan menyelesaikan semua hal yang menggila di Jakarta.

Biarkanlah kegilaan ide atau gagasan dikontestasikan oleh calon-calon gubernur. Pemilih jangan sampai menggila dalam dukung mendukung. Pemilih harus tetap waras. Jika semua menggila, siapa lagi yang akan menciptakan check and balance dalam pemerintahan?

*Artikel ini dimuat dalam situs selasar.com dengan link https://www.selasar.com/politik/basuki-dan-kegilaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s