Mengambil Peran dalam Membangun Masa Depan Kehutanan

Kehutanan dulu benar-benar menjadi salah satu  tumpuan Republik Indonesia dalam menghasilkan devisa. Keberadaan sektor Kehutanan dengan melimpahnya kayu sekitar  tahun 1967 – 1998  sangat diperhitungkan oleh berbagai pihak dan disebut-sebut sebagai Rising Industry yang mencetak rimbawan-rimbawan berkantong tebal. Sebagai gambaran, Sadikin Djajapertjunda dan Lisman Sumardjani menyebutkan periode investasi pada tahun 1967 – 1970 telah mencatat 55 perusahaan, sebagian besar  perusahaan asing dengan nilai investasi sebesar USD 520 juta. Hingga pada akhir tahun 1971 jumlah perusahaan kehutanan meningkat menjadi 87 perusahaan. Ekspor kayu bulat pun mencapai 10.899.000 Mdengan nilai tidak kurang dari USD 400 juta dan menduduki komoditas ekspor terbesar kedua setelah minyak dan gas bumi.

Dalam kurun waktu 1982 – 1990, para pengusaha yang telah membangun industri kayu lapis dan kayu panel lainnya, bergabung ke dalam Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo), suatu asosiasi pengusaha panel kayu. Asosiasi tersebut yang beranggotakan 105 perusahaan yang melalui Badan Pemasaran Bersama, memasarkan kayu lapis dengan sistem quota. Dengan Apkindo, industri kayu lapis dan kayu panel Indonesia telah berhasil menancapkan kukunya di belantara perdagangan kayu lapis internasional hingga mengantarkan Indonesia menjadi eksportir terbesar kayu lapis dan kayu panel di Dunia. Continue reading

First Journey, Kuala Lumpur

Pengalaman pergi ke luar negeri bagi sebagian mahasiswa mungkin merupakan hal yang sangat istimewa, apalagi dalam rangka mengikuti kegiatan ilmiah. Akan tetapi bagi sebagian lainnya, itu hanya aktifitas tambahan yang jika kebetulan ada kesempatan dan modal uang, maka baru berangkat, jika tidak, ya nggak perlu sengaja diagendakan. Adapun saya sebenarnya dulu termasuk sebagian yang tidak terlalu berniat ke luar negeri kecuali untuk menempuh jenjang pascasarjana. Saya termasuk mahasiswa yang banyak disibukkan dengan urusan berbagai organisasi dan komunitas mahasiswa yang ada di kampus sehingga tidak terpikir sedikitpun untuk sengaja merencanakan mengikuti kegiatan ilmiah ke luar negeri.

Paradigma berpikir saya berubah setelah menjadi peserta PPSDMS Nurul Fikri. Program training pengembangan diri yang diasuh oleh Bang Bachtiar Firdaus cukup banyak memberikan inspirasi baru dalam benak saya. Biasanya Bang Bachtiar selalu menekankan agar kita menjadi manusia yang kaya akan pengalaman perjalan internasional, berwawasan global, dan jaringan yang luas. Seringkali saya dan peserta lain diingatkan untuk membuat paspor, kartu nama, mencari mentor, baca buku ini, buku itu dan lain-lain. Gaya amukan beliau kadang bikin nyali saya ciut tapi sekaligus menjadi daya dorong yang kuat bagi saya untuk berkembang. Continue reading

Visi Abadi

“Aku akan membawa kepadamu pasukan yang mencintai kematian seperti kamu mencintai kehidupan!” , tulis Khalid bin Walid dalam suratnya untuk Gubernur Persia ketika hendak membebaskan wilayah Mesopotamia.

Wahai Khalid, sesungguhnya pasukan seperti apa yang engkau bawa? Apa yang mereka cari sampai mereka mencintai kematian yang merupakan hal yang paling ditakuti manusia? Apa yang ada dalam benak mereka sampai mencintai sesuatu yang setiap orang berusaha menghindarinya-kematian? Sungguh, pasukanmu membuat jiwa ini merasa menjadi kerdil di depan keagungan mereka. Lalu, engkau sendiri wahai Khalid, apa yang engkau inginkan dari seratus lebih pertempuran yang engkau menangkan? Apakah engkau mencari kebesaran nama dalam sejarah padahal engkau dipecat oleh Umar bin Khotob sampai engkau wafat di atas tempat tidur seperti domba mati?

Wahai manusia, tahukah kalian jawaban Khalid atas pertanyan-pertanyaan tadi? Tahukah kalian apa yang sering diucapkan Khalid di medan pertempuran? Inilah kalimat sejarah Khalid di setiap pertempuran : Ketika Allah memutuskan suatu permasalahan, itu pasti terjadi. Aku telah mendedikasikan hidupku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi………… Aku adalah bangsawan petarung, aku adalah Pedang Allah, aku Khalid ibn Al-Walid.

Mulialah Khalid dan pasukannya! Mereka telah mengajarkan kita tentang visi abadi. Visi yang membebaskan manusia sejarah dari kekerdilan jiwanya. Visi yang telah mengangkat manusia sejarah menuju derajat terhormatnya. Visi yang selamanya akan membebaskan kita dari ketidakadilan sejarah : Allahu ghoyatuna; Allah tujuan kami.

Dari visi itulah lahir manusia-manusia yang sadar untuk siapa sebenarnya mereka bekerja. Mereka tetap bekerja dalam sunyi. Mereka tidak tertarik dengan hingar-bingar pengakuan publik, gemuruh tepuk tangan, atau sorotan kamera, sebab itu bukan tujuannya, sebab itu bukan kebanggaannya, sebab itu adalah ancaman kesia-siaan. Mereka selalu tersedu-sedu menangis karena menghayati betul firman Allah “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, (karena) bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka). ” (Al-Ghasyiyah: 2-4)

Dari visi itulah lahir manusia-manusia yang tidak peduli akan hujatan pendengki, fitnahan pembual, dan siksaan penguasa tiran.  Mereka terbebas dari ketidakadilan sejarah. Jiwa mereka merdeka dari subjektivitas manusia. Teguhlah hati mereka dengan firman Allah “…dan mereka tidak takut akan celaan orang yang suka mencela.” (Al-Maidah : 54)

Hadirnya Allah dengan segala yang terkait dengan-Nya; ridho-Nya, ampunan-Nya, rahmat-Nya, surga-Nya, murka-Nya, neraka-Nya telah melahirkan manusia-manusia sejarah yang memiliki visi hidup yang abadi. Ketika Uqbah bin Nafi’, salah satu sahabat Rasul yang menjadi komandan perang bergerak bersama pasukannya untuk membebaskan Afrika, beliau hanya mengucapkan sebuah kalimat yang sangat sederhana, “Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Konstruksi Misi Hidup Kita

“Tolong katakan padaku, ke mana arah jalan pulang dari sini?”
“Tergantung ke mana kamu mau pergi,” kata si kucing.
“Aku tidak begitu peduli ke mana,” jawab Alice.
“Kalau begitu ke mana pun kamu pergi bukan masalah,” kata si kucing.
-Alice Adventures in Wonderland by Lewis Carroll

Tidak ada identifikasi salah atau benar, menyimpang atau tidak menyimpang, tersesat atau tidak tersesat. Semua itu karena tidak ada misi hidup yang jelas.

Saya termasuk orang yang sangat setuju dengan pemikiran Ustadz Anis Matta bahwa misi hidup secara maknawi itu given. Secara maknawi misi hidup kita tidak kita formulasikan karena status kita sebagai ciptaan. Tidak heran dalam pedoman hidup kita terdapat teks yang sudah jelas akan misi hidup ini : “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku” (Adz-Dzariyat : 56).

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah konsep ibadah seperti apa yang harus kita amalkan dalam rentang waktu hidup kita di dunia ini? Setidaknya ayat terakhir surat Al-Ashr menunjukan kita akan point-point umum dalam merepresentasikan  makna ibadah agar kita tidak merugi dalam hidup. Beginilah teksnya : “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Representasi ibadah yang pertama adalah iman. Iman adalah hasil akhir dari proses pengetahuan, pemahaman, dan keyakinan. Maka di sini ada perpaduan antara akal dan hati yang diekspresikan oleh ucapan dan perbuatan. Inilah maksud dari ungkapan makna iman dalam kitab-kitab aqidah : tashdiiqun bil qolbi wa iqroorun bil lisan wa ‘amalun bil arkaan; membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Pada konteks inilah iblis dikatakan tidak beriman karena ia hanya mengetahui, memahami, meyakini, dan mengucapkan kebenaran tanpa mengamalkannya. Pada konteks ini pula kenapa orang-orang kafir Quraisy, Yahudi, dan Nashrani pada zaman Nabi Muhammad dikatakan tidak beriman karena mereka hanya mengetahui, memahami, dan meyakini tanpa mengucapkan dan mengamalkan dua kalimah syahadat – di sini kita harus memahami sejarah bahwa mereka semua memahami dan meyakini isyarat kenabian, makna syahadat, dan konsekuensinya.

Representasi ibadah yang kedua adalah amal saleh. Amal saleh adalah semua upaya untuk melakukan hal yang baik menurut persepsi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini makna umum. Sebenarnya ini tidak terlepas dari bagian keimanan berupa konsekuensi atas anggota badan. Inilah yang mengisyaratkan penegasan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan. Harus senantiasa terpadu sebagai sata kesatuan dari representasi ibadah.

Kata Ustadz Anis Matta, iman dan amal saleh memiliki tiga komitmen : Pertama komitmen aqidah (keyakinan) kepada Islam; memahami dan meyakini dengan baik mengapa kita memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup. Kedua komitmen metodologi (syariah) kepada Islam; menjadikan satuan-satuan ajaran Islam sebagai sistem dan tatanan kehidupan kita. Ketiga komitmen sikap (akhlak) kita kepada Islam; menjadikan ajaran moral Islam sebagai perilaku sehari-hari kita.

Representasi ibadah yang ketiga adalah saling menasehati dalam kebaikan. Ini mengisyaratkan agar iman dan amal saleh kita didistribusikan kepada orang lain. Di sinilah dakwah yang merupakan  risalah nubuwah (misi kenabian) menemukan konteksnya sebagai misi hidup manusia karena ia merupakan metode untuk mendistribusikan kebaikan. Ketika representasi ibadah ini telah kita penuhi maka kita telah menjadi peserta sosial yang sadar dan proaktif. Di sinilah kita menjadi da’i.

Kemudian pada proses distribusi kebaikan ini, kita harus mengoptimalkan kontribusi kita masing-masing sesuai dengan kompetensi unggulan yang dimiliki karena kita tidak bisa melakukan semuanya. Kemampuan kita terbatas. Setidaknya ada empat bidang kontribusi yang dapat kita optimalkan : pemikiran, kepemimpinan, profesional, dan finansial. Ketika kita mampu memberikan kontribusi sesuai dengan kompetensi unggulan kita, maka ketika itulah kita menjadi mujahid.

Representasi ibadah yang terakhir adalah saling menasehati dalam kesabaran. Ini adalah isyarat konsistensi. Inilah persoalan terberat bagi kita karena bagian yang paling menentukan dari kesuksesan kita dalam mengemban misi hidup adalah akhir hidup kita. Setelah kita berdarah-darah mencapai puncak sejarah seolah-olah dari kejauhan akhir surat Al-Ashr berseru, “Bertahanlah! Kau harus memiliki ambisi keabadian. Kau harus bertemu dengan Tuhanmu dalam keadaan terhormat agar kelak kau ceritakan episode panjang hidupmu kepada saudara-saudaramu di surga.”

Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Berikanlah kami akhir yang baik : husnul khotimah.
Aamiin..

Menyusun Kembali Hirarki Tsaqofah Kita

Tsaqofah atau wawasan merupakan salah satu pintu kebenaran yang membuat seseorang siap mengemban misi hidup yang diyakininya. Maka tidak heran ayat pertama yang diturunkan kepada Sang Rasul adalah perintah membaca : iqra! Ini adalah isyarat akan pentingnya menyusun bangunan tsaqofah dalam mengawali perjuangan.

Terkadang tsaqofah yang kita bangun tidak memiliki struktur pemikiran yang jelas dalam benak kita. Semua bercampur baur sehingga tidak menciptakan pola pikir yang matang. Oleh karena itu kita perlu membagi tsaqofah muslim menjadi dua kelompok besar, yaitu tsaqofah dzatiyah dan tsaqofah mu’ashiroh.

Tsaqofah dzatiyah adalah tsaqofah yang tidak mungkin terpisahkan dari pribadi muslim. Tsaqofah ini menjadi identitas, karakter, dan ciri khas setiap muslim. Secara umum tsaqofah ini dapat kita sebut ilmu syari’ah. Akan tetapi dalam standar minimal jumlah ilmu yang harus dikuasai dari tsaqofah ini terdapat banyak teori. Ustadz Sa’id Hawa dalam bukunya Jundullah Tsaqofatan wa Akhlaqon menetapkan standar ilmu syari’ah bagi seorang muslim pengemban risalah nubuwah (misi kenabian) yang dalam pandangan saya cukup berat, yaitu : Ushulus Tsalatsah (Allah, Rasulullah, dan Islam), Ulumul Qur’an, As sunah, Ushul Fiqh, Ilmu yang sifatnya teoritis (Ilmu Aqo’id/Aqidah, Akhlaq, dan Ilmu Fiqh), Sejarah Umat Islam dan Kekiniannya, Disiplin Ilmu Bahasa Arab, Kajian Islam Kontemporer, dan Pemahaman Dakwah dan Praktiknya.

Adapun tsaqofah mu’ashiroh adalah tsaqofah yang harus dimiliki seorang muslim sebagai perangkat untuk mengelola bumi dan isinya. Secara umum tsaqofah ini berupa ilmu profesi dan sosial humaniora. Tsaqofah inilah yang menunjang fungsi manusia sebagai pengelola bumi dan isinya (khilafah fil ardh) secara teknis. Oleh sebab itu dalam konteks kekinian harus ada satu cabang dari tsaqofah ini yang menjadi spesialisasi kita. Kemudian tsaqofah ini tidak akan berfungsi secara tepat sesuai kemaslahatan manusia jika tidak dilandasi oleh tsaqofah dzatiyah sebagai pembentuk self control mecanism pada manusia.

Semua tsaqofah di atas harus dikuasai oleh seorang muslim. Permasalahannya sekarang ada pada proporsinya. Tidak mungkin semua tsaqofah itu kita kuasai secara mendalam. Kita tidak dituntut untuk menjadi manusia berpengetahuan ensiklopedi. Walaupun pada masa keemasan Islam klasik banyak yang menjadi pakar dalam tsaqofah dzatiyah sekaligus tsaqofah mu’ashiroh. Ibnu Sina; seorang filsuf aqidah sekaligus pakar kedokteran, Imam abu Hanifah; seorang faqih (ahli fiqh) sekaligus pakar dan praktisi bisnis, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi; seorang sejarawan Islam sekaligus pakar matematika mereka semua bisa kita temukan pada masa itu. Akan tetapi ketatnya disiplin ilmu pada zaman sekarang sangat sulit bahkan tidak memungkinkan melahirkan manusia-manusia seperti itu lagi. Spesialisasi ilmu sudah sangat spesifik dengan sekat-sekatnya tersendiri.

Setidaknya permasalahan proporsi tsaqofah dapat diatasi dengan membenahi hirarki tsaqofah dalam benak kita. Tsaqofah dzatiyah sebagai pembentuk identitas, karakter, dan ciri khas harus dijadikan pondasi. Adapun tsaqofah mu’ashiroh disusun di atasnya sebagai perangkat teknis pengelolaan bumi dan isinya. Dengan begitu mudah-mudahan kita akan terlahir sebagai manusia yang memiliki kompetensi unggulan dan selalu on mission.

Sunan Kalijodo dan Permainan Legitimasi Publik

Dulu, ketika musim kampanye Pilpres 2014, publik sempat dibuat geleng kepala oleh Ketua Umum DPN Srikandi Gerindra, Nurcahaya Tandang yang keseleo lidah menyebut Prabowo sebagai titisan Allah. Akhirnya beliau minta maaf atas ketidaksengajaan itu. Musim kampanye memang musim menggilanya para die harder calon-calon pejabat publik. Pilgub DKI Jakarta pun tak terhindar dari kegilaan ini, bahkan ada yang melangkah terlalu jauh dengan membawa label-label dari tradisi keagamaan untuk munjustifikasi kelayakan calon gubernur untuk dipilih.

Sempat heboh, Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menjuluki Basuki Tjahaya Purnama sebagai Sunan Kalijodo. “Karena hidupnya di Jakarta, beliau ini Sunan Kalijodo. Sunan Kalijodo itu telah mengubah masyarakat yang hitam kelam menjadi masyarakat beriman,” kata Gus Yaqut yang merupakan putra dari KH. Muhammad Cholil Bisri, salah satu pendiri PKB. Djarot Saiful Hidayat sebagai pasangan Basuki menguatkan gelar Sunan Kalijodo dengan mengatakan bahwa julukan itu mengarah kepada peristiwa ketika kawasan kumuh di Kalijodo yang ditengarai menjadi sarang prostitusi dan narkoba akhirnya dibersihkan. Mungkin Djarot perlu juga memberikan gelar Sunan Kramat Tunggak kepada Sutiyoso yang telah merubah kawasan prostitusi di sana menjadi Jakarta Islamic Centre. Continue reading

Analisis Kunjungan Raja Salman ke Indonesia

Indonesian Think Tank

cdn-media-viva_-idimages2017030158b66b2ecd371-kedatangan-raja-salman-di-indonesia-5ba5d9b12d57567df6c1f8965e47587b2064de40

Pengantar Diskusi: Hasmi Bahtiar

Saudi menjadi aktor utama dalam pertemuan dua negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Saudi akan terlihat lebih mencolok sebagai sorotan ketimbang Indonesia sebagai objek kunjungan.

Kunjungan Raja Salman ke beberapa negara Sunni Asia, seperti Malaysia, Brunei, dan Indonesia ditambah beberapa negara besar yakni Cina dan Jepang, dapat dilihat dari tiga aspek; politik, ekonomi, ideology sebagai pintu masuk ke Indonesia.

Inti kunjungan ini ada pada dua aspek pertama, yaitu politik dan ekonomi. Namun, pintu masuknya ada pada aspek ideologi.

Orang-orang banyak membicarakan Raja Salman sebagai aktor utama, padahal sesungguhnya yang menjadi tokoh tunggal dalam lawatan ini adalah puteranya, Muhammad Ben Salman.

Ben Salman yang mengatur kunjungan ke beberapa negara Asia yang dipimpin Raja Salman. Adapun kunjungan lain ke Moscow, langsung dipimpin Ben Salman. Kunjungan ke Irak dipimpin Eljubair, selaku Menteri Luar Negeri Saudi.

View original post 916 more words

Filsafat Islam versus Filsafat Sekuler

Indonesian Think Tank

Pengantar Diskusi: Ismail Al Alam*

Filsafat sebagai pondasi ilmu pengetahuan telah menjadi materi wajib di kampus-kampus negeri. Buku-buku filsafat telah mengalami proses pengkajian, pembedahan sampai dengan kritik.

Sebagian kalangan yg meyakini bahwa argumen-argumen filsafat dalam referensi yang mereka peroleh adalah capaian tertinggi dari kemampuan nalar manusia untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Tak jarang dari mereka yang menghilangkan peran agama baik secara sadar maupun tidak sadar, secara terang terangan maupun malu malu.

Agama dinyatakan sebagai musuh terbesar nalar manusia karena praktik keagamaan sebuah agama di wilayah tertentu dan di masa tertentu pernah mengebiri agama sedemikian rupa.

View original post 2,407 more words